|
Post House Lokal Juga Oke |
|
Saturday, 12 January 2008 |
Post House Lokal Juga Oke
Sejak era 70-an, Indonesia sebenarnya sudah memiliki pemain di bidang post production. Kita mengenal nama Inter Studio. Sayangnya, post house tersebut tidak bisa memberikan one stop service. Sehingga banyak order yang terpaksa juga dibagi pengerjaannya dengan post house luar negeri. Selain itu, sebagai satu-satunya post house berkualitas di Indonesia, Inter Studio sering kebanjiran order. Akibatnya, banyak order yang terpaksa ngantri untuk dikerjakan di sana. Ini membuat pihak production house banyak yang tetap memilih untuk nge-post di luar negeri. Uang pun terbang ke sana.
Beberapa tahun belakangan iklim industri periklanan, film layar lebar, serta tayangan televisi mengalami pertumbuhan pesat. PH baru banyak bermunculan. Produksi iklan dan film layar lebar pun semakin meningkat. Fenomena ini diiringi lahirnya sejumlah post house lokal maupun cabang dari post house luar negeri. Nama-nama seperti G1 postgroup, Eltra Studio, Mirage Post, VHQ, AppleBox Post Production, Double Click, DAP, Luminaire, Epix fx Studio, Neo Post, Pyramid, dan lain sebagainya mulai mengepakkan sayapnya di pasar persaingan post production Indonesia.
Namun tetap saja banyak produser film iklan hingga film layar lebar yang mengalihkan pengerjaan post production-nya ke luar negeri. Padahal, secara kualitas post house lokal bisa disejajarkan dengan nama-nama seperti Oriental Post dan The Post Bangkok dari Thailand, Infinite Frameworks, Black Magic Design dari Singapura, atau APV, MFX dari malaysia. Equipment yang dipakainya pun tidak kalah canggih dengan yang ada di post house luar itu. Apa yang dimiliki oleh post house luar sudah banyak ditemui di post house lokal. Tidak hanya itu, editor yang menjadi ujung tombak sebuah post house pun punya kualitas yang sama antara post house luar dengan post house lokal. Kok masih lari ke luar?
Keputusan memilih post mana yang akan dituju berada di tangan director dan produser. Salah memilih bisa berakibat karya mereka menjadi useless. Jutaan rupiah bisa melayang percuma. Untuk amannya, banyak director dan produser yang lari ke luar negeri. Kualitas dan pengalaman post house luar negeri memang tidak diragukan lagi. Nama-nama seperti Oriental Post, The Post Bangkok, dan Infinite Frameworks sudah punya banyak pengalaman menangani iklan-iklan dan film layar lebar.
"We also find many top Production Companies who have settled comfortably with the local Post Houses. The past few months have been hectic for local 'Power' Post houses like G1, VHQ, Eltra, and others doing non-stop heavy post in their high end facilities. Production companies have to book weeks or even months in advance to get a chance to do work in their favourite local post house. When fully booked, then they have no choice but to post overseas. Many Production companies have commented that they would rather post locally cause it will save them a lot of time," kata seorang executive producer yang tak mau disebut namanya.
Di saat banyak produser dan director yang nge-post di luar, masih ada produser dan director lokal yang setia kepada post house lokal sebagai tukang poles produknya. Kesetiaan ini bukan tak beralasan. Mereka pada dasarnya melihat kualitas yang baik sudah dimiliki oleh post house lokal. Dari segi fasilitas, "Basically sih sekarang semuanya udah sama ya. Alatnya juga udah sama, software-nya udah sama," ujar Dodo K.S., Produser Svarna Vista yang biasa nge-post di Eltra Studio dan Double Click. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Doddy Widodo, freelance director, "Sama aja. Spec-nya sama. Mereka punya apa kita juga punya," ujarnya. Untuk urusan post production, Doddy biasa melakukannya di Mirage Post, Double Click dan Eltra Studio.
Post house Indonesia pada umumnya memang sudah mampu memboyong equipment editing terbaru. Mereka pun selalu me-up date hardware dan software keluaran terbaru. Hal ini tentunya semata-mata demi meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada klien masing-masing. Selain itu, beberapa post house lokal juga sudah mampu memberikan one stop service kepada setiap kliennya. Mulai dari proses offline hingga online mampu dikerjakan di satu tempat. "Kalau mau kerja cepet ya di Double Click, banyak resources-nya, mau 3D ada, mau grafis juga ada tenaga yang siap bantuin. Kalau di G1 bisa TC, sekalian kalau mau animasi deket sama Epix. Kalau mau main banyak grafis di VHQ, di sana tim grafisnya cukup kuat," ujar Agus Makkie, director.
Selain kelengkapan equipment, ada faktor lain yang menurut Dodo menjadi penunjang kualitas sebuah post house. "Basically kembali ke the man behind the gun. Orang yang di balik alat-alat itu jago apa nggak," jelasnya. Memang, alat-alat yang canggih sekalipun tidak akan mampu menghasilkan output yang baik tanpa ada orang yang piawai mengoperasikannya. Orang yang mengoperasikan equipment tersebut tidak boleh hanya memiliki kemampuan sekedar untuk mengoperasikannya saja. Namun lebih kepada itu, dia harus memiliki taste dan imajinasi yang kreatif. Itu sebabnya mereka disebut sebagai editor, bukan operator.
Perbandingan editor post house kita dengan editor yang in-house di post house luar tidak jauh berbeda. Dari segi skill, editor post house lokal sudah mempunyai tempat di hati para produser atau director. Mereka mampu menghasilkan output editing yang tidak kalah dengan editor-editor di post house luar negeri. "Untuk full grade aku selalu ke G1. Dia selalu jadi pilihan pertamaku sebelum ke luar negeri. Aku compatible banget sama Adi untuk urusan full grade. Aku sama dia nyambung chemistry-nya. Seleranya sama. Apa yang aku mau dia udah tahu. Kalau offline sukanya sama Darren dan Adi Eltra, compatible juga sama Rino VHQ dan Aty," aku Ipang Wahid, director 25 frames. Lagi pula, bekerja dengan editor lokal juga memiliki keuntungan lain. Pengerjaan sebuah editing bisa dilakukan lebih cepat jika dibandingkan dengan editor di post house luar. "Di sana mereka kalau bikin 3D bisa aja mintanya seminggu atau sebulan. Sementara kalo sama anak-anak sini mintanya bisa tiga hari," ujar Doddy. Pendapat senada juga keluar dari Dodo K.S. Menurutnya, jika membuat 3D di luar negeri, tidak bisa secepat di Indonesia. "Kalo di sini bisa kita kejar-kejar," ujar lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.
Sebagai pemicu untuk meningkatkan kualitas editor lokal, kita juga harus mengakui kalau editor-editor luar negeri masih memiliki beberapa kualifikasi yang membuat mereka unggul. "Untuk beauty di luar memang sedikit lebih bagus," ujar Edwin Setiawan, executive producer Velocity productions. Doddy pun memiliki pendapat yang sama. "Di sana tuh lulusan-lulusan daerah Hongkong, udah ideal dengan kulit plastik dari dulu. Jadi misalnya kulit, rambut, ketika dilihat tuh ada yang bagian yang bolong, mereka tuh touch up rambut bener-bener udah kayak mainan biasa. Jadi kadang-kadang operator sini untuk kasus yang seperti itu, sedikit lagi lah," tutur director berwajah ramah ini.
Seiring dengan perjalanan waktu, pengalaman para editor lokal juga bertambah. Hal ini membuat mereka jadi mampu menerjemahkan keinginan director dan produser terhadap output karya mereka.
"Eltra sama Double Click itu orang-orangnya juga orang-orang lama. Udah biasa di dunia ini. Jadi mereka response kebutuhan kita juga cepet. Kita maunya apa, mereka bisa nyediain. Kita maunya gini-gini, mereka udah ngerti," ujar Dodo K.S.
Alasan lain diungkapkan oleh Deffie Imani. Produser dari Filmpoint ini melihat bahwa harga yang ditawarkan oleh post house lokal sudah kompetitif. "Alasan yang pastinya sih dari sisi harga," tuturnya. Edwin juga memiliki alasan lain yang membuatnya lebih memilih untuk melakukan proses post productions. "Saya lebih memilih nge-post di Jakarta. Ke luar negeri buang-buang waktu aja," ujar Edwin yang sering nge-post di G1 postgroup, VHQ, Eltra, dan Double Click.
Kadang, klien juga memiliki alasan tersendiri dalam menentukan post house yang akan digunakan. Faktor yang menjadi alasan klien adalah kenyamanan yang ditawarkan oleh post house tersebut. Faktor lainnya adalah kedakatan lokasi post house dengan kantor mereka. "Kadang klien inginnya di post house tertentu karena mereka nyaman di sana. Selain itu, juga karena dekat dengan kantor mereka, ujar Uli Rahman, director yang biasa nge-post di Mirage Post, Double Click, dan Luminaire.
Equipment yang dimiliki, editor yang direkrut, hingga harga yang ditawarkan oleh post house lokal sekarang ini sudah siap bersaing dengan post house Bangkok, Singapura, dan Australia. Faktor-faktor ini yang semakin menarik minat director dan produser lokal untuk nge-post di dalam negeri. Bahkan, dari data yang diperoleh, bukan hanya production house lokal yang nge-post di sini. G1 postgroup pernah menerima orderan untuk mengedit TVC dari sebuah agency Vietnam. Kalau bukan prestasi, apalagi namanya? Kalau sudah lihat kenyataan seperti ini, masih mau nge-post di luar? Hurry and book your schedule with your local favourite post house. Quick!***
Oleh: Ferdiansyah & Putra Raditia Utama Foto: Afriadi Hikmal & Bambang E. Ros |
 |
|
|
|