Main Menu
HOME
2D AREA
3D AREA
PRODUCTION
FORUM
TUTORIALS
JOB LINKS
FREE STUFF
EVENTS
ABOUT US
SEARCH
LOGIN
 
Buy and sell 3D models

C4Dist.com


3D IMAGES 3D PROJECT COMICS EVENTS
 
Mari Membaca Komik
Saturday, 22 December 2007
Oleh: Karna Mustaqim

Jejak Asal Komik.
"Akankah ada bentuk seni lainnya, 'Goethe menduga-duga', muncul di dunia kosmopolit ini dan menjadi perekat budaya yang efektif!?" Suatu ketika tatkala Goethe memperhatikan novel-novel bergambarnya Rodolphe Toppfer, seorang edukator dan teoritisi seni dari Swiss, ia pun lalu mensinyalir salah satu dari sekian banyak hal yang mungkin dapat melakukan penyatuan kultur modern adalah komik strip.

 

Mungkin untuk kondisi zaman sekarang ini selain komik, terdapat pula animasi, televisi, dan juga internet, yang bisa dipandang sebagai tempat berkumpulnya berbagai kultur modern masa kini. Perkembangan budaya tentu tak lepas begitu saja dari perjalanan masa lalunya, dan kejayaan masa lalu itu barangkali hanya akan abadi di dalam data-data kesejarahan. Manusia menyeleksi mana yang dibutuhkan dan mana yang tidak, dan untuk sementara waktu ini komik masih merupakan bagian dari sebuah kebutuhan manusia yang belum punah sejak kemunculannya hingga kini. Sebagai sinyalir "perekat budaya", komik melangsungkan evolusinya bersama-sama dengan berjalannya peradaban manusia. Kata 'komik' tersebut tidaklah berdiri sendiri, kata komik muncul pertama kali dengan ekornya 'strip' ( the comic strip) dan ia bukan pula merupakan suatu bentuk seni yang sama sekali baru seperti yang suka diangkat sebagian orang, komik ibaratnyalah sebuah perayaan atas kematian yang brilian dari konsepsi artistik yang sudah usang(out of date) .

Secara naif biasanya komik strip di anggap mirip dengan narasi grafis (graphic narration). Kebiasaan ini adalah upaya menyetarakan komik dengan model awal narasi visual seperti gambaran/relief di Trajan Column atau Queen Mathilde’s, berikut pula contoh lainnya seperti lembaran-lembaran papirus Mesir, Bayeux Tapestry, novel cukilan kayu. Gambaran terdekatnya pada kita dapat di temui pada relief candi Borobudur dan Prambanan yang terkenal, secara spesifik Indonesia mempunyai Wayang Beber di Jawa, yang menggunakan teknik bercerita dengan gambar adegan per adegan. Dalanglah yang menarasikan satu persatu gulungan wayang beber dan menjalin kisah di dalamnya. Ada juga Prasi, ilustrasi dan lukisan dari daun lontar di Bali. Dan yang juga mendekati adalah ilustrasi naratif manuskrip Jawa yang banyak ditemukan berasal dari pertengahan abad ke 19, seperti Serat Rama Kawi, Serat Bratayuda, Serat Panji Jayakusuma, Serat Damarwulan . Tarik mundurlah lebih jauh lagi hingga ke lukisan dinding zaman pra-sejarah dan kita mempelajarinya sebagai sebuah arkeologi komik. Membedakan antara ‘komik’ dan model awal 'narasi visual' yang disebut-sebut itu, sedikit mirip seperti menganalogikan perbedaan 'sinema/bioskop/ layar tancap' dengan ‘wayang’(shadow teater/puppet); meski film atau animasi dapat di wayang-kan seperti dilakukan Lotte Reiniger(animator) , namun secara eksplisit kita bisa cukup jelas dalam membedakan keduanya.

Abad ke 19 di Eropa tercatat banyak eksplorasi dari narasi-narasi bergambar (illustrated narratives), yang beriringan dengan perkembangan teknologi cetak seperti zincography dan photoengraving. Tapi narasi itu, yang disebut "Images d’Epinal" di Perancis dan "Bilderbogen" di Jerman, masih menempatkan "j a r a k" antara teks dan gambar. Secara artistikal puncaknya kreasi cerita gambar (picture stories) ini dibuat oleh si Rodolphe Toppfer dan Wilhelm Busch. Di abad-abad sebelumnya telah berlangsung eksprimen-eksperimen yang untuk sementara waktu terlihat antara teks dan ilustrasi berjalan di jalur yang berbeda, sampai akhirnya hadirlah ilustrasi cerita karya William Hogarth di tahun 1730-an yang menyatukan keterpisahan antara teks dan gambar, ke dalam satu jalinan cerita. Hogarth membuat sealami mungkin rangkaian adegan(sekuensial) dari sebuah visual naratif, dengan melukisan adegannya seolah-olah berada pada sebuah aksi panggung. Alhasil timbullah kesan dramatikal yang memikat. Apa yang Hogarth lakukan masa itu merupakan sesuatu hal yang sungguh berbeda dari cara mengillustrasi yang lazim di zamannya, sehingga dari sanalah sebuah diberikan sebutan yaitu "kartun(cartoon)". Konsepsi berupa setting antara teks dan gambar yang ia buat itu kelak akan menggiring adanya temuan sistematis penggunaan balon kata. Diduga konsepsi semacam ini berlanjut menelurkan asal-usul bentuk komik seutuhnya yaitu 'komik strip'.

Menjelang pergantian akhir abad ke 19, lahirnya bentuk budaya baru yang disebut komik ini, maka mulailah tampil ke depan pintu zaman sebuah model ekspresi baru yang populer. Menyandingkan pepatah Konfusius yang berbunyi, "A Picture means A Thousand Words", komik mendapatkan induksi pemaknaan yang lebih berarti sebagai sebuah media penyampai pesan yang memadukan teks narasi dan ilustrasi gambar. Sebagaimana yang diupayakan Will Eisner, seorang komikus Amerika yang sukses mengembangkan komik dalam bentuk yang ia sebut-sebut novel grafis (graphic novel), dimana dalam pandangannya buku komik merupakan montase kata dan gambar dimana seorang pembaca harus melatih kemampuannya menginterpretasikan hal-hal secara verbal dan visual bersamaan. Rezim seni(seperti: perspektif, komposisi, sapuan kuas) dan rezim literatur(seperti: tata bahasa, plot, sintaksis) keduanya menjadi saling terataskan. Membaca komik adalah sebentuk upaya melakukan persepsi estetik (keindahan) dan pengejaran intelektual. Ia memperbandingkan komik sebagai seni merangkai adegan (sequential art) .

Komik dalam pandangan menurut Scott McCloud, "Juxtaposed pictorial and other images in deliberate sequence, intended to convey information and/or to produce an aesthetic response in the viewer." Terjemahan yang dikutip dari bukunya Memahami Komik terbitan KPG adalah, "Gambar-gambar serta lambang-lambang lain yang terjuktaposisi dalam turutan tertentu, untuk menyampaikan informasi dan/atau mencapai tanggapan estetis dari pembacanya."

Pada tahun 1973, Malte Dahrendorf menyebut komik sebagai benda/barang gambar secara massal adalah kisah bertekanan pada gerak dan tindakan yang ceritanya dalam urutan gambar dengan daftar dan jenisnya yang khas . Jika kita percaya pada tesis Marshall McLuhan yang menyebutkan tentang "Berakhirnya kurun waktu buku(bacaan/tulisan)" dan meramalkan "Kurun waktu berlambang gambar", maka berlimpahnya penggunaan bahasa visual seperti yang terdapat dalam komik masih akan meluas lagi.

Jepang menyimpan penamaan tersendiri untuk komik yaitu 'Manga', dengan huruf kanji yang sama di Cina disebut Man Hua. Sebelumnya sempat di kenal sebutan Ponchi-e (istilah untuk gambar-gambar dari majalah Punch yang terbit pertama kali tahun 1814 di Inggris) dan juga komikkusu (mengadaptasi dari kata comics). Asal usul istilah Manga sendiri tidak ada keterkaitan spesifik dengan pengertian manga sebagaimana kita kenal sekarang ini sebagai sebutan untuk komik ala Jepang. Dahulu pada tahun 1814, jilid pertama “Hokusai Manga” diterbitkan, isinya adalah sketsa-sketsa Katshuhika Hokusai(1760-1849), seorang artis ukiyo-e (seni cukil kayu Jepang) yang terkenal, diterbitkan sebanyak 15 jilid. Tak ada gerak-gerik manusia yang luput dari ketajaman observasi matanya dan goresan kuasnya yang ekspresif. Hokusai menggambarkan obyektifitas pandangannya tentang kemanusiaan dari sisi yang humoris . Artis lain yang dinilai punya peran penting pada dunia komik Jepang adalah Yoshitoshi Tsukioka (1839-1892) artis ukiyo-e generasi akhir masa Meiji, adalah artis yang sangat baik melukiskan monster, makhluk aneh dan fantasi. Konotasi manga kala itu disamakan dengan cartoon, dengan caranya sendiri-sendiri William Hogarth dan Katshuhika Hokusai melahirkan bentuk ilustrasi yang berbeda dari umum di tempat dan zamannya masing-masing. Adalah Rakuten Kitazawa(1876-1955) yang kemudian menjeneralisirkan penggunaan istilah Manga sebagai pengertian untuk kartun dan komik strip di Jepang, melalui suplemen hari minggu di harian Jiji Shinpou. Karya-karyanya masih sangat kental di pengaruhi oleh Outcoult, Dirks dan Opper. Tahun 1918 ia mendirikan Manga Kourakukai, sebuah asosiasi kartunis Jepang. Kitazawa adalah seorang pionir komik strip modern Jepang. Sekarang kartun/karikatur dan manga, mempunyai dunianya masing-masing dalam Jepang kontemporer.

Tradisi literatur atau sastra Jepang yang memikat dan biasanya berupaya menggiring emosional pembaca sehingga larut terbawa dalam imajinasi dan suasana cerita, tampaknya merupakan dasar kuat bagi kelanjutan perkembangan teknik bercerita dalam manga. Osamu Tezuka, yang dijuluki ‘The God of Manga’ yang tertarik sekali dengan desain karakter kartun Disney dan Max Fleischer, kemudian mengembangkan karakter individunya kedalam karya manga dan anime(sebutan khas animasi produksi Jepang) yang karena kepopulerannya, melanda berikutnya ke generasi-generasi selanjutnya hingga kini. Tezuka juga mendapatkan inspirasi dari film-film Jerman dan Perancis yang ia tonton semasa remaja, membawanya pada eksperimen teknik sinematografis masuk ke dalam manga Jepang, diantaranya melalui penciptaan efek-efek kesan ruang dan kedalaman, teknik 'passing' adegan, gerak dinamis dan slow motion, ritme cerita yang mendebarkan, dan alur cerita yang mengasyikkan dan tak harus selalu berakhir gembira. Beberapa efek sinematografis yang ia masukkan ke dalam manga adalah seperti pengambilan adegan dalam framing yang transisi obyeknya berubah perlahan-lahan. Semacam kesan zooming, pengambilan shoot gambar yang detail dari sudut ke sudut suatu obyek. Jepang kontemporer mengandung banyak unsur campuran berbagai kebudayaan impor. Dimana di dalam pencampuran itu masih selalu terlekat erat esensi unsur yang menunjukkan tradisi ke-Jepangan-nya, misalnya saja kultur Jepang yang sangat menghemat ruang dan kompak, filosofis hidup ajaran Zen dan Konfusius, terlihat mempengaruhi lahirnya komposisi dan struktur lay-out manga yang efektif dan efisien dalam menggunakan bidang kertas terbatas namun tetap dijaga kejernihan pembacaannya.

Komik, sebuah industri dan budaya modern.
Komik itu sehat. Demikian pernyataan ini terbit di ufuk pikiran dengan niat memperlihatkan kenyataan positif dari kegiatan membaca komik. Seperti kita ketahui bersama membaca komik menimbulkan keasyikan tersendiri bagi pembacanya, baik itu anak-anak, para remaja, tiada ketinggalan pula para orang tua. Biasanya kegiatan ini di lakukan untuk mengisi waktu senggang atau sering pula ketika anak-anak jenuh dengan bahan pelajaran. Dengan kehadiran komik maka hampir dapat di pastikan sebagian besar orang menghabiskan masa mudanya dengan menikmati bacaan bergambar yang satu ini. Ibarat makanan, komik hadir seperti jajanan atau cemilan yang selalu menggoda hati. Di masa sekarang ini komik merupakan fenomena budaya di Indonesia terutama di kota-kotanya. Bahkan Arswendo Atmowiloto, seorang pemerhati budaya, menyebutkan bahwa komik dapat memberikan sumbangan pada proses pertumbuhan kebudayaan nasional . Dalam tulisan yang sama dikemukakan bahwa,"Komik sebagai media ekspresi pribadi sekaligus terlibat dalam apa yang disebut kebudayaan nasional. Mereka(komikus-komikus) adalah dinamikator-dinamikator yang kalau dilihat dari sejarah dan hasilnya, komik mampu menampung masalah sosial, politik, agama, sejarah, perjuangan, penerangan dan aspek-aspek lain dalam kebudayaan." Di pihak sastrawan, Mocthar Lubis, berpikiran lebih jauh dengan menyatakan, "Komik menurut anggapan saya, adalah salah satu alat komunikasi massa yang memberi pendidikan baik untuk kanak-kanak maupun untuk orang dewasa. "Sebagai bahasa gambar, komik menarik minat para ahli semiotik dan linguis, seperti ungkapan seorang ahli komunikasi massa berkebangsaan Italia, Umberto Eco, "Komik menjadi sebuah bidang kajian yang luas dan sulit dijelajahi, tetapi terbuka bagi 'semiotika pesan gambar'." Demikian pula yang ditegaskan Arthur Asa Berger, di akhir salah satu tulisannya, dalam buku Signs in Contemporary Culture, ia mengatakan komik memiliki banyak hal yang dapat kita baca, namun hanya jika kita peduli .

Cukup banyak pula orang yang telah menuangkan pemikirannya tentang komik ke dalam buku-buku, misalnya Scott McCloud dengan 'Understanding Comic : the Invisible Art', Maurice Horn dalam 'World Encyclopedia of Comics', Frederik L.Schodt dengan 'Manga!Manga!The World of Japanese Comic', Thomas M. Inge melalui 'Comic as Culture' dan masih dapat ditemukan lagi penulis-penulis lain yang tertarik dalam mengulas komik.

Dalam perjalanannya, komik-komik yang pernah hadir di Indonesia mempunyai komunitas penggemarnya tersendiri. Di Indonesia , sengaja atau tidak di sengaja, secara kasar seolah terbentuk kelompok-kelompok yang fanatik pada jenis komik tertentu. Dekade tahun 50-an hingga 60-an didominasi oleh komik nasional(lokal), kemudian memasuki dekade 70-an hingga 80-an mulai diramaikan oleh kehadiran komik-komik impor dan terjemahan Barat(Eropa dan Amerika), disusul dekade 90-an hingga saat ini serbuan dari komik terjemahan asal negeri matahari terbit yaitu Jepang. Periodesasi di atas bukanlah dimaksudkan sebagai gambaran mutlak, batasan-batasan tahun hanyalah untuk memperlihatkan adanya perubahan gradual pecinta komik di Indonesia seiring hadirnya komik-komik luar ke negeri tercinta ini. Untuk gambaran kasatnya, andaikanlah kita ini sebagai seorang anak sekolah menengah, perhatikanlah kegemaran komik bacaan kakek atau bapak-ibu kita, kemudian abang dan kakak kita, lalu kita sendiri, dan selanjutnya perhatikan adik-adik kita. Pada masa sebelum dekade 90-an, komik buatan lokal masih sanggup bercokol dan mempunyai peminat yang meluas meski kemudian secara perlahan surut dan hilang dari pasaran. Kini di abad ke-21 ini, komik Indonesia menjelmakan diri melalui gerilya beragam bentuk, tak hanya komik buku dan strip saja, tapi juga memanfaatkan berbagai peluang pasar media yang tersedia, entah sebagai suplemen atau promosi produk dari media lainnya.

Dalam perjalanan sejarahnya, komik Amerika pernah mendapat pengaruh komik-komik dari Eropa seperti Jerman dan Perancis, sedangkan Jepang di tahun 70-an juga sempat di pengaruhi oleh komik gaya Amerika, dan kini Jepang mempengaruhi kembali komik-komik Eropa dan Amerika. Di Indonesia sendiri uniknya hampir semua jenis komik tersebut tidak pernah ketinggalan hadir dan mempengaruhi citra komik nasional. Kemampuan beradaptasi seperti itu sebenarnya mirip yang dimiliki oleh leluhur bangsa Indonesia yang tercermin melalui akulturasi budaya daerah sejak jaman kerajaan-kerajaan nusantara dahulu kala. Cerminan itu tampak pula pada budaya-budaya suku bangsa Indonesia yang sarat perpaduan budaya, misalnya dari upacara tradisinya, adat-istiadat, pakaian dan tarian, bahasa dan sastra, cerita rakyat, dan banyak lagi bentuk kebudayaan itu. Proses berakulturasi ini dapat kita serap ke dalam proses pembuatan komik, dan meski komik bagi sebagian orang masih di anggap "produk pinggiran" dari kebudayaan, bukan berarti ia tidak bisa diberikan nilai lebih, misalnya saja dengan menyisipkan unsur-unsur positif budaya bangsa ke dalam kisah atau karakternya. Karena seperti yang diungkapan Marcel Boneff dalam disertasinya tentang komik Indonesia bahwa, "Walaupun hanya “produk pinggiran" dari kebudayaan, komik berpangkal pada kebudayaan, dan merupakan salah satu benih kebudayaan.”

Membanjirnya komik-komik asing itu tidaklah buruk, asalkan saja orang-orang menyadari tentang bagaimana sebaiknya mengkonsumsi komik-komik tersebut. Sejak lama pembaca komik di Indonesia merupakan konsumer komik yang jumlahnya tidak kecil. Sungguh disayangkannya perjalanan panjang yang sempat ditempuh, beragam karakter komik serta jumlah konsumer baca yang besar itu ternyata tidak cukup mampu memberi landasan berpijak yang kokoh dan kuat bagi kelnajutan kehidupan perkomikan nasional sementara waktu. Komik sendiri adalah sebuah industri. Seperti yang terlihat bahwa komik telah menjadi fenomena perkotaan. Di Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Lampung, Yogya dan kota-kota lainnya, tersebar banyak komunitas pecinta komik yang besar. Saat ini jenis komik Jepanglah (manga) yang tengah di gandrungi, hal ini tentunya di karenakan pula oleh mudahnya mendapatkan komik-komik itu. Produksi komik lokal bukannya tidak ada, namun gaungnya belum cukup menggembirakan. Komik-komik Indonesia atau yang pernah populer di era 60-an dengan istilah cergam (cerita bergambar) tampaknya belum mendapat porsi yang pantas di hati kalangan komunitas pecinta komik. Komik nasional seolah-olah tak putus di rundung malang.

Sejujurnya kita adalah bangsa yang tidak kalah dalam hal sumber daya seperti keahlian (skill), sumber cerita dan sumber karakter. Bangsa Indonesia mempunyai ribuan pulau keanekaragaman dan lautan budaya yang luas seluas-luasnya untuk dijelajahi. Lalu apa yang membuat kita demikian tidak berdaya menghadapi serbuan komik asing? Barangkali, sejujurnya harus diakui, bahwa kita masih saja gagal memikat hati para pembaca sendiri, kita kalah dalam berkompetisi merebut cinta dari peminat komik dunia di Indonesia. Upaya mengembangkan komik kiranya perlu dilakukan bersama-sama, karena dunia perkomikan adalah sebuah industri yang membutuhkan banyak tangan dan banyak dukungan, bahkan mungkin pengorbanan yang tidak sedikit dari mereka yang terlibat di dalamnya. Banyak aspek-aspek manajerial yang harus diperhatikan dalam memproduksi sebuah komik, dari studi pasar, pembuatannya, pencetakannya, penerbitannya, serta pejualannya dan pemasarannya, yang memungkinkan agar komik-komik tersebut menjadi produk konsumsi yang berkualitas dan laris manis di pasaran.

Aspek manajerial dan struktur pengerjaan ini menciptakan budaya komik tersendiri, dicontohkan dengan sederhana dimana komik produksi Amerika membagi-bagi pekerjaan komik ke dalam sketsa pensil, pembubuh teks, peninta, pewarna, desainer grafis dan produksi final artwork. Di jajaran manajerial sebuah produksi judul komik mempunyai penanggung jawab sejak dari editorial hingga produser layaknya produksi sebuah film. Detil tanggung jawab yang disesuaikan tuntutan etos kerja dan pasar di negeri itu sendiri, yang ternyata sedikit banyak berbeda dengan berbagai varian-variannya. Halmana berkaitan dengan kondisi pasar dan tuntutannya menciptakan pola produksi komik Jepang yang berbeda dengan komik Amerika sebagai bandingan ukuran raksasa produsen komik dunia yang besar dan saling pengaruh–mempengaruhi.

Di Jepang pengerjaan komik dilakukan oleh seorang komikus di bantu beberapa artis sebagai asisten. Dengan mengandalkan ongkos produksi yang murah, maka penerbit komik di Jepang bersaing ketat dalam kuantitas penerbitan judul-judul komik baru. Secara kontras kualitas produksi komik Jepang jauh di bawah komik produksi Amerika yang sifatnya kolektibel. Komik Jepang tidak bedanya dengan majalah yang sifatnya temporer hanya untuk sekali baca. Kekontrasan itu bisa dilihat dari fisik komik Amerika yang tipis dan berwarna, sementara komik Jepang tebal dan hitam putih atau rasterisasi.

Perbedaan kualitas produksi ini juga berdampak pada variasi tema-tema yang diangkat ke dalam bentuk komik. Beberapa penerbit komik di Amerika berorientasi pada kekhasan jenis penerbitan mereka, sementara penerbit komik Jepang berorientasi kepada pembaca yang dituju. Tiap-tiap penerbit komik Amerika mempunyai ciri jenis tema yang biasa menjadi khas masing-masing penerbit, sedangkan di Jepang penerbit komik bahkan mempedulikan usia pembaca komik dan gendernya. Maka muncullah khas penerbitan komik Jepang yang dikhususkan bagi kaum hawa. Dari sini pula muncul perbedaan mencolok jumlah komikus wanita di penerbitan komik Jepang, yang secara kontras jumlahnya minim pada penerbitan komik Amerika.

Masih banyak lagi hal yang bisa diperhatikan dari aspek manajerial dan struktur penerbitan komik dari dua negeri komik tersebut. Hal yang penting untuk dipelajari adalah bagaimana memetik pelajaran dari berbagai pola yang ada, kemudian disesuaikan dengan kondisi dalam negeri, disesuaikan dengan etos kerja dan budaya di Indonesia. Sebagai gambaran dalam negeri, kita belum mempunyai cukup sumber daya terlatih dan profesional bila ingin mengikuti pola produksi komik Amerika yang begitu terperinci, di sisi lain kita belum sampai pada tuntutan jumlah produksi komik seperti di Jepang.

Kualitas produksi komik lokal barangkali masih jauh bila harus mengejar kualitas komik Amerika, tapi bukan berarti alternatif terbaiknya adalah mengikuti pola produksi dalam mengejar kuantitas seperti komik Jepang. Idealnya adalah dengan melirik juga kondisi selera pasar di Indonesia masih sangat terbuka, tergantung pada komik mana yang membanjiri pasar maka besar kemungkinan itulah yang kemudian diminati oleh sebagian besar pembaca. Ada baiknya komik Indonesia bereksperimen dalam mencari dan menemukan teknik berproduksi tersendiri agar bisa merebut pasar dengan memenuhi harapan pembaca komik yang sudah ada, baik secara kualitas maupun kuantitas, dimana komik lokal dapat mencuri celah posisi yang ada diantara berbagai warna dan gaya komik-komik terjemahan.

Apabila dibuatlah sebuah anggapan bahwa komik sebagai sebuah konsepsi, maka dapatlah ia diterapkan melalui berbagai medium seni dan dapat pula menjadi medium seni tersendiri. Memandang komik sebagai rujukan pada sebuah peran bukan sekedar bentuk belaka, maka komik bisa menjelma menjadi pesan yang diperankan untuk merekatkan berbagai bentuk seni dan budaya.

Di Indonesia menurut Arswendo Atmowiloto adalah Zam Nuldyn, seorang cergamis kota Medan, yang memperkenalkan sebutan CERGAM di akhir tahun 1950-an. Dan sebutan ini masih dapat di temukan dalam beberapa penerbitan komik terjemahan di awal tahun 1990-an, seperti terbitan dari Misurind. Istilah cergam dikatakan akronim dari cerita bergambar (lebih tepatnya cerita gambar) atau cerita berbentuk gambar meniru istilah cerpen(cerita pendek). Tapi sebenarnya itu adalah gambaran sikap lunak untuk menghindarkan tuduhan bahwa komik adalah momok . Dan untuk sementara waktu, komikus-komikus di masa itu sempat menyukai istilah ini karena konotasinya dianggap lebih bagus, dan sempat pula kabarnya berdiri perhimpunan profesi bernama Ikatan Seniman Tjergamis Indonesia (IKASTI).

Sekedar menilik dari istilah cergam, bila dikatakan sebagai akronim dari cerita bergambar maka maksudnya tentu adalah cerita yang mempunyai/disertai oleh gambar-gambar, selain bisa berarti pula sebuah cerita berbentuk gambar. Adalah lebih tepatnya cerita berbentuk gambar ini disebutkan dengan cerita gambar (picture stories) mirip dengan sebutan bagi pra-konsepsi komik yang dirintis oleh Rodolphe Toppfer di Eropa dulu. Begitu pula bila kita mengikuti peristilahan cerpen (cerita pendek) maka seharusnya cergam di panjangkan sebagai cerita gambar dengan penghilangan imbuhan ber- pada kata gambar. Tanpa harus mengorbankan peristilahan bahasa itu sendiri, CERGAM telah menyimpan rujukan maknanya yang paling sederhana kepada bentuk komik yang kita kenal hingga saat ini. Istilah ini pun telah sempat hadir sekian lama dan memberi ciri khas penerbitan komik-komik di Indonesia. Malangnya setelah kematian cergam Indonesia, ditandai dengan redupnya penerbitan dan peredaran komik produksi lokal dan membanjirnya komik-komik terjemahan di era 1990-an, maka istilah ‘cergam’ ini pun pergi untuk selama-lamanya. Pekan Komik dan Animasi Nasional yang cukup rajin diadakan, Kajian Komik Indonesia sebagai lembaga pengkajian komik, dan Masyarakat Komik Indonesia sebagai wadah berkumpulnya berbagai insan pecinta komik, tampaknya sudah menutup rapat pintu bagi sebutan komik Indonesia dengan 'cergam', yang barangkali dianggap sudah tidak sesuai jaman, atau barangkali memang sudah tiada lagi upaya memaknai kembali akronim itu. Sekarang ini malah terjadi kelatahan yang melanda di kalangan muda, aksen-aksen dalam bahasa jepang mulai biasa diucapkan sebagaimana aksen-aksen dalam bahasa Inggris di pakai, dikarenakan bacaan terjemahan dari komik negeri matahari terbit atau manga tersebut. Sebutan komik mendapatkan sandingan barunya, Manga. Ada komik lokal, ada manga lokal. Sebagian mulai rancu hendak menyebut karyanya sebagai komik atau manga, dan sebagain juga mulai bingung apakah memilih menyebut dirinya komikus atau mangaka, meski pada dasarnya sama saja. Berbeda dengan sebutan ‘manga’ yang awalnya sederhana kemudian terus-menerus dimaknai lebih oleh bangsa jepang sendiri, nasib akronim istilah ‘cergam’ justru ditinggalkan dan tidak diberi makna lebih lagi, sehingga sebutan cergamis dirasakan kalah bagus dengan komikus apalagi mangaka. Tanpa bermaksud mendebatkan lebih jauh tentang peristilahan, dapat dilihat bahwa sebutan cergam sebagai padanan comic atau manga, kini telah dibekukan.

Kelahiran komik Indonesia, sebuah perjuangan.
Konon katanya, komik bila dilihat dari sejarah dan hasilnya, mampu menampung permasalahan sosial, politik, agama, filsafat, sejarah, perjuangan, penerangan dan aspek-aspek lain dalam kebudayaan, demikian yang pernah diungkapkan pada tahun 1982 oleh Arswendo Atmowiloto selaku pengamat komik dalam artikelnya yang berjudul ‘Komik dan Kebudayaan nasional’ di majalah Analisis Kebudayaan. Rangkaian pikiran yang terkandung dalam tulisan itu masih tampak relevan dengan kondisi perkomikkan dalam negeri hingga saat ini. Dari sana dapat kiranya ditarik kesimpulan walau mungkin terdengar sedikit tergesa-gesa, bahwasannya komik Indonesia pada kelahiran pertama sangatlah dekat dengan realitas permasalahan sosial yang ada, dan itu cukup mencerminkan kondisi perjuangan kebangsaan yang sedang bergolak.

Sementara komik strip Put On, dengan komikusnya Kho Wan Gie yang ditasbihkan sebagai generasi komik Indonesia pertama sejak tahun 1930-an, yang dari isinya bisa dipelajari kondisi perubahan sosial, politik dan budaya dari warga Cina peranakan dengan segala permasalahan hidup mereka tinggal di Jakarta , ternyata terdapat pula buku komik yang dilansir lahir pertama kali yaitu 'Kisah Pendoedoekan Jogja' karya komikus Abdulsalam, yang malah berkaitan langsung dengan peristiwa yang benar-benar sedang terjadi, yaitu tindakan agresi militer kedua Belanda (sebagai penjajah) yang melanggar perjanjian Renville dengan menyerang jantung Republik Indonesia yakni ibukota Yogyakarta. Komik ini terbit di tahun yang sama dengan tahun kejadian Agresi II – 1948, hal ini menunjukkan bagaimana keterlibatan dan peran langsung dari komikusnya seolah-olah melakukan aksi perjuangan dengan mencatat peristiwa tersebut ke dalam goresan komiknya yang dimuat bersambung di harian Kedaulatan Rakyat, sebelum akhirnya dijadikan buku .

Apa yang pernah dilakukan Abdulsalam mungkin mirip seperti yang diistilahkan oleh Seno Gumira Ajidarma dengan jurnalisme komik, yang dapat kita temukan pada Palestine, sebuah laporan jurnalistik tentang keadaan warga Palestina dalam bentuk komik. Komikusnya, Joe Sacco, keluar masuk rumah warga dan melakukan wawancara, mendengar, menulis, melihat dan menuturkannya kembali dalam bahasa visual . Kita mungkin tidak tahu apakah Abdulsalam melakukan hal yang sama dengan Joe Sacco, tapi terlepas dari itu, dapat diperhatikan bagaimana dekatnya keterlibatan komik dengan permasalahan lokal dan nasional pada masa itu. Beberapa tahun kemudian ketika zaman keemasan komik Indonesia yang ditandai dengan ‘Periode Medan’, selain kisah-kisah legenda dan mitos-mitos lokal yang sebelumnya telah banyak diangkat, juga mulai diangkat tema-tema yang berkaitan dengan masalah sosial masa itu seperti sabotase, kekacauan, ekstrimis, ketidakpuasan pada sistem pemerintahan yang berpusat di jawa, yang diolah ceritanya oleh seorang komikus bernama Zam Nuldeyn dengan tokoh komiknya,”Detektif Bahtar(1955)” .

Sejak dulu hingga saat ini pun komik dianggap bacaan yang menghibur. Isinya bermacam-macam. Ada humor-dagelan, petualangan, fantasi, drama, biografis, jurnalistik, erotis dan filosofis serta masih banyak berkembang lagi dengan tema-tema yang lebih spesifik. Medium hiburan yang satu ini tidak mengenal dan tak peduli strata sosial maupun pendidikan pembacanya. Siapa saja boleh memilih sendiri komik yang sesuai kemauannya saat kapan saja.

Demikianlah sedikit gambaran dunia komik dewasa ini, tapi benarkah komik hanya berhenti sebagai sebuah media penghibur belaka? Tangguhkan dulu, coba perhatikan kembali keterlibatan sosial komik seperti yang telah diuraikan di paragraf-paragraf sebelumnya. Selain itu komik juga disinyalir mempunyai kandungan ideologis bahkan gerakan politis tertentu yang disadari maupun tidak. Tambahan lagi melalui pengamatan Marcel Boneff, seorang peneliti komik Indonesia dari Perancis, berpendapat bahwa komik Indonesia adalah sumber utama untuk memahami mentalitas bangsa Indonesia. Hal ini menunjukkan komik pun tidak lagi sekedar hiburan yang biasa-biasa saja, telah ada keseriusan tertentu dalam menanggapi penggarapan komik-komik. Perlu ada kedewasaan dan wawasan dalam mengkritisi kehadiran komik dalam masyarakat kontemporer dewasa ini. Meskipun tak bisa kita pungkiri bahwa dominasi komik-komik untuk konsumsi anak-anak dan remaja masih yang terbanyak memenuhi rak-rak toko buku di Indonesia tercinta ini. Untuk kalangan dewasa dan orang tua biasanya mereka bisa mendapatkannya lewat pemesanan khusus, misalnya, via belanja internet ataupun menitip koleganya yang berada di luar negeri. Sebagian sangat kecil pasar ini sudah dibidik oleh komik-komik underground dengan tema-tema yang spesifik yang terkadang provokatif.

Jikalau kita berjalan-jalan di arena bazaar komik lokal maka akan kita temui keunikan dalam setiap pameran komik yang berlangsung di dalam negeri, selain mengusung kata ‘komik Indonesia’ adalah sebuah kenyataan terbalik dari keadaan umumnya, yaitu jumlah peserta pameran yang berasal dari komikus-komikus independen dan bawah tanah justru lebih banyak daripada peserta pameran dari penerbitan-penerbitan umum. Hal yang sangat kontras bila kita perhatikan pada rak-rak toko buku yang besar-besar tapi tak satu pun bisa kita temui komik-komik seperti yang ada saat pameran komik seperti itu Hal ini bisa dibuktikan dengan melihat Pekan Komik dan Animasi Nasional (PKAN) yang digelar kembali untuk ke-empat kalinya tahun 2003 ini di kota Yogyakarta. Sebelum-sebelumnya semenjak tahun 1997, pameran komik lokal sudah menjadi agenda kegiatan di berbagai kota-kota di nusantara setiap tahunnya, bahkan setahun belakangan ini semakin meningkat intesitasnya. Kita belum tahu akan bagaimanakah ke depannya, apakah gerakan pameran komik lokal ini adalah sebuah simbol penambah semaraknya dunia hiburan dewasa ini, ataukah ia menjadi suatu gerakan yang lebih mandiri bukan sekedar mencuri perhatian sejenak saja.

Berikut ini disebutkan secara singkat perjalanan komik Indonesia yang mewakili tiap-tiap jamannya. Seperti yang telah disebutkan diatas komik strip Put On tercatat sebagai komik resmi pertama yang muncul di suratkabar Sin Po oleh Kho Wan Gie. Kemudian Mentjari Poetri Hidjau oleh Nasrun A., Kisah Pendoedoekan Jogja karya Abdulsalam, R.A.Kosasih dengan Sri Asih dan John Lo dengan Nina Poetri Rimba, Kwik Ing Hoo dengan Wiro: Anak Rimba yang populer di masanya, cergam-cergam wayang dipelopori Ardisoma dan Kosasih, Siaw Tik Kwie, guru dari Ganes Th, menelorkan serial bersambung Sie Djin Koei di majalah Star Weekly tahun 1958, bersama juga di majalah ini hadir tokoh si A Piao karya Koei Kwat Siong, era 60-an cergamis Sumatra tampil unjuk gigi, diantaranya yang gigitannya terkenal adalah Taguan Hardjo, Zam Nuldeyn dan Djas yang menampilkan artistik dan penggarapan tema yang sangat beragam, memasuki era 70-an, pengaruh komik heroik Amerika dan cerita silat Hongkong kian kental, namun di masa inipun Ganes Th bisa meraih sukses dengan Si Buta dari Goa Hantu dan Hans Jaladra dengan Panji Tengkorak, keduanya sempat dijadikan serial sinetron di akhir tahun 90-an , Hasmi dengan Gundala yang di layar-lebarkan di tahun 80-an dan Wid Ns dengan Godam, akhir 70-an dan memasuki era 80-an menyusul cergam2 dengan olah artistik yang semakin mantap, seperti karya-karya Jan Mintaraga dengan cergam romantiknya dengan tokoh wanitanya yang berwajah indo, Teguh Santosa dengan cergam silat fantasi, Gerdi WK dengan Gina yang bersetting Timur Tengah, Djair dengan silat Jaka Sembung yang bahkan di film-kan dan nyaris hendak di ‘legenda’-kan, Man dengan cergam silatnya Mandala: Siluman Sungai Ular yang juga berkesempatan di layar lebarkan. Tanpa harus merasa iri dengan kemajuan komik di luar negeri, komik Indonesia hingga akhir tahun 80-an telah menunjukkan prestasi yang cukup membanggakan.

Sayangnya, prestasi dan perjalanan sepanjang lebih kurang lima dekade itu tidaklah cukup untuk memberikan landasan berpijak yang berarti bagi pengembangan industri komik lokal selanjutnya. Hampir tidak ada sebuah penerbitan komik pun yang sanggup melanjutkan penerbitan komik-komik Indonesia. Penerbit-penerbit yang ada kemudian lebih tertarik tentunya dengan bisnis menerjemahkan komik luar yang menguntungkan. Tidak seperti nasib komikus Amerika dan manga-ka Jepang, cergamis Indonesia tidak pernah beroleh kesempatan dibesarkan oleh penerbit, justru malah banyak penerbit-penerbit tersebut gulung tikar. Pemasaran cergam Indonesia mulanya adalah model agensi-agensi dan kaki lima. Pasar bebas adalah gambaran lahir, berkembang dan mati suri-nya cergam Indonesia. Kala itu sedikit sekali cergamis yang menempuh jalur pendidikan formal apalagi tinggi, sehingga minim sekali inovasi-inovasi yang berkembang di dunia industri cergam Indonesia, meski ditemukan pula sudah ada teknik rasterisasi pada karya Taguan Harjo, seperti yang kini dikenal pada komik jepang dewasa ini, serta di samping tentunya masalah ‘perut’ yang tak terelakkan. Di satu masa sebelumnya, penerbitan terjemahan dari komik-komik eropa seperti dari Belgia dan Perancis, banyak menyaingi pasaran cergam di Indonesia yang belum begitu mapan adanya, menyusul banyaknya pula komik saduran dari Amerika dan akhirnya penerbit menemukan pasar yang luas dengan biaya penerbitan yang murah dan lebih menguntungkan lewat penerjemahan manga atau komik Jepang.

Kelahiran komik Indonesia, sebuah renesans.“Bedebah… Jahanam… Bangsat….!!!”
Makian-makian para pendekar komik Indonesia itu tentu sudah tak segagah dahulu. Si Buta, Panji Tengkorak, Godam dan Gundala, satu-satu roboh dihantam batu menhirnya Asterix-Obelix, jurus peremuk tulangnya Chinmi, dan akhirnya dikencingi si bocah nakal Sinchan.

Sepenggal kalimat diatas dikutip persis atau istilah milleniumnya di ‘copy paste’ kan langsung dari sumber digitalnya, sebuah arsip pada portal komik Indonesia yang bernama www.komikaze99.com. Tertanggal 2003-04-13 11:07:48. Dengan segala kelengkapannya sebuah teknologi digital berbasis jaringan internet memudahkan pemakainya untuk mencari dan menemukan sumber-sumber yang ia butuhkan. Pencatatan penemuan itu pun tercatat persis detil-detilnya hingga ke menit dan detik. Maka dimulailah kelahiran generasi baru dari komik Indonesia yang bukan dimulai atau dilanjutkan oleh garis keturunan keluarga komikus, atau keturunan dari keluarga kolektor komik Indonesia, juga bukan lahir dari penggemar komik Indonesia dan sejenisnya. Kelahiran generasi baru komik Indonesia benar-benar terputus dari masa lalu dan bayang-bayang gaya komik Indonesia masa silam. Bolehlah kiranya kita panggilkan kelahiran kembali ini sebagai ‘renesans’ komik Indonesia yang sangat rapuh, karena ia terlahir dengan caranya sendiri dan tanpa adanya orang tua yang akan mengasuhnya. Kapankah kelahirannya? Karena lahir tanpa orang tua yang mengandungnya, maka ‘renesans’ komik Indonesia ini tersembunyi dan dikandung di benak masing-masing anak-anak muda yang memimpikan kehadiran kembali komik buatan anak Indonesia sendiri, terutama komik miliknya yang paling diimpi-impikan. Kelahirannya pun tidak merupakan sebuah tanda tunggal yang menandai sebuah kelahiran, tapi berupa tanda-tanda kelahiran yang tersebar di mana-mana.

Diantara tanda-tanda kelahiran awal yang sangat fenomenal adalah terbitnya edisi pertama dan mungkin satu-satunya hingga saat ini yang dicetak dengan gemilang yaitu Caroq, sebuah komik dengan tema kepahlawanan, seruannya yang yang terkenal,”Pahlawan sudah mati!? Siapa bilang!” Lalu terlihatlah sosok bertopeng dengan otot-otot yang menonjol mempertontonkan kepahlawanannya sambil menghunuskan celurit dan melompat dari arah ketinggian bangunan. Hup! Dan orang-orang diingatkan kembali bahwa,”Komik Indonesia sudah mati!? Siapa bilang!”

Dibawah bendera Qomik Nasional (QN), terbit pula selain Caroq yaitu kapten Bandung. Era komik dengan komikus tunggal telah ditinggalkan, mereka kini menyadari penting dan sulitnya bekerjasama dalam satu naungan studio komik, seperti Sraten yang sempat menelorkan Patriot, sebuah komik mengenang pahlawan-pahlawan klasik Indonesia seperti Godam, Gundala, Maza, dan Aquanus. Ada juga Animik pernah memunculkan Si Jail, studio ini bertahan hingga kini berkat kerjasamanya dengan berbagai kegiatan dan bidang usaha terkait lainnya. DS Studio dengan serial silat manga Alit Kencana, sebelumnya studio Dwi Setyawan ini juga memproduksi komik untuk majalah-majalah anak-anak. Disamping itu Depdiknas juga sempat melaksanakan beberapa kali lomba komik yang mana komik pemenang di cetak oleh Balai Pustaka. Judul-judulnya itu misalnya Ayam Majapahit oleh Kirikomik, Blandong oleh Ahmad F. Ismail, Kecoa oleh Yudhie dkk, dan yang belakangan Tekyan yang berkisah tentang anak-anak jalanan.

Lain halnya dengan kota Yogyakarta, sebuah kota kecil yang tempat dilaksanakannya pekan komik dan animasi nasional kali ini, sebuah tempat yang kaya akan aneka rupa komik independen. Sejak tahun 1995, suasana komik underground di kota ini sudah terasa, Core Comic boleh dikatakan sebagai nama yang cukup di kenal luas, selanjutnya hingga saat ini banyak terjadi evolusi yang beragam dari kelompok-kelompok pembuat komik independen di Yogya. Apotik Komik yang banyak membuat komiknya di tembok-tembok jalanan, Daging Tumbuh berupa kumpulan komik siapa saja yang dikelola oleh Eko Nugroho, Komikaze yang bertahan melalui komik online-nya, adalah beberapa contoh populer yang bisa disebutkan. Tema-tema komik yang diusung pun sedikit berbeda dengan selera komik masyarakat umum, dimana komik yang dianggap jajanan untuk anak-anak atau orang dewasa yang kekanakan dikesampingkan. Karena kebebasannya, maka nuansa tema komik juga lebih bebas menggarap tema-tema yang jarang ditemukan pada produksi komik mainstream, cerita yang kadang aktual apa adanya, kadang keras, kadang satir yang kasar, dan kadang-kadang juga bisa nihil dan absurd. Nuansa ini biasa dipanggilkan namanya sebagai nuansa alternatif dalam rimba perkomikkan.

Fenomena gerakan komik Indonesia untuk sementara ini juga sarat diwarnai nuansa instanitas pelakunya, dimana kenyataan setiap orang berkesempatan bebas membuat komik dan menyebut dirinya seorang komikus bila sudah pernah melahirkan komik sendiri barang satu atau dua buah. Latar belakang tiap-tiap komikus kadang melahirkan pandangan-pandangan ekstrim masing-masing dalam memandang rimba perkomikkan Indonesia, dari pandangan yang materialistik yang berorientasikan pasar, hingga yang idealistik mengekspresikan sisi individunalisnya. Inilah tanda keberagaman yang unik dalam tubuh ‘bayi montok’ komik Indonesia.

Kondisi kelahiran komik pertama Indonesia dibandingkan dengan renesans komik Indonesia saat ini, akan terdapat sedikit banyak persamaan, yakni kondisi sosial politik tanah air yang sedang tidak menentu. Jika melirik tahun 1930-an sebagai tahun kelahiran komik strip sebagai komik Indonesia yang pertama, bisa kita lihat bahwa yang namanya bangsa Indonesia belumlah lahir, resminya perjuangan kemerdekaan bangsa baru diperoleh tahun 1945 dengan berdirinya negara kesatuan Republik Indonesia. Lima puluh delapan tahun sebelumnya, komik Indonesia telah berjuang melalui kisah-kisah yang memberi penyadaran bagi masyarakatnya akan kondisi dan status kebangsaan yang masih terjajah. Sekarang setelah melewati rentang waktu separuh abad lebih, bangsa Indonesia mengalami kondisi kebangsaan yang tidak jauh berbeda tapi dalam bentuk dan pola yang tak lagi sama.

Reformasi yang bergulir di saat mana perekonomian nasional terpuruk, kemudian terjadinya disintegrasi bangsa dan morat-maritnya perpolitikan menambah buruknya kondisi sosial kemasyarakatan di tanah air, sudah menjadi berita umum yang tak kunjung usai di negeri ini. Beberapa penerbitan komik sempat juga ada yang mengupas kejadian-kejadian sejak era reformasi sempat bermunculan, seperti Jakarta 2030, komik-komik tokoh reformasi Amien Rais, Gus Dur dan Megawati, dan Sukab Intel Melayu. Namun komik-komik ini gaungnya tidak terasa seperti komik strip jaman dahulu, kondisi dan situasi yang ada sudah berbeda jauh, dimana sekarang ini perhatian orang-orang pada komik-komik seperti itu tentu tergusur oleh gegap-gempitanya beragam komik terjemahan yang menawarkan bermacam variasi untuk lari dari realitas yang sedang terjadi disekeliling. Kisah-kisah percintaan, superhero, horor, fantasi, sains fiksi dan imajinasi cukup menggoda kesadaran kebanyakan khalayak pembaca komik dan para perupa komik. Beberapa komik pun tampak seperti pelarian frustasi dari perupanya, atau juga menjadi media menuangkan impian-impian hidup. Untuk itulah tema komik S.O.S Aceh menjadi sasaran sebagai tema pokok lomba komik di PKAN. Mungkin ada harapan untuk mengetuk pintu kesadaran para pembaca dan perupa komik yang mungkin letih dengan segala persoalan dalam negeri, untuk memberikan sedikit kepeduliannya sebagai bagian dari bangsa yang sedang dalam kondisi kritis ini melalui media komik.

Rimba perkomikkan Indonesia, masa kini dan harapan di masa mendatang.
Penggunaan anonim ‘rimba’ bagi dunia perkomikkan Indonesia, hanyalah sebuah keisengan belaka dalam memandang wajah perkomikkan nasional. Perkomikkan di Indonesia masih terlihat seperti sebuah rimba raya yang belum terjelajahi sepenuhnya. Setelah ditinggalkan stagnan selama lebih kurang dua dekade sejak berakhirnya kejayaan komik nasional di tahun 70-an, perkomikkan Indonesia laksana sebuah hutan hilang yang mulai kembali dipapaki oleh para penjelajahnya. Rimba ini belum dikenali seutuhnya, ada penjelajah yang menyelesuri pinggirannya, ada yang mencoba menerobos ke dalam kelebatannya, ada yang mulai membangun koloni baru di lahan yang baru dibuka, dan masih banyak yang hanya memandang angker dari jauh saja.

Belum adanya aturan-aturan main yang baku yang dikhususkan bagi penerbitan komik, dimana ada sebagian penerbitan memperlakukannya sama seperti penerbitan buku-buku lainnya, ada pula yang mencoba membangun kerjasamanya. Pola kerja yang beragam yang masing-masingnya sedang dalam proses pencarian bentuk-bentuk kerjasama yang lebih sesuai dengan keadaan, memberi warna pada penggarapan komik-komik lokal. Ada yang bekerja dibawah naungan sebuah penerbitan dengan membawa misi tertentu, ada yang menjalin hubungan dengan organisasi nirlaba, ada yang mengerjakan sendiri, ada yang berkelompok, untuk kemudian mengajukannya pada penerbit. Selain itu ada pula yang berada di luar sistem penerbitan umum, dengan membangun jaringan dan pada akhirnya mulai melahirkan komunitasnya tersendiri. Yang perlu menjadi perhatian disini adalah sebuah komik bisa eksis bila ada perupa atau artis komik yang bertekad untuk mengerjakannya dan sebuah komik juga butuh penggemar yang apresiatif agar eksistensinya bergulir. Selain itu penting pula bagi insan perkomikkan nasional untuk saling membangun dan mempersiapkan landasan pijak bagi penjelajah baru yang ingin masuk dan meramaikan rimba belantara perkomikkan Indonesia yang masih lapang dan asri ini.

Sekian banyak adanya tanggapan-tanggapan yang positif, selayaknya diambil perhatiannya oleh para perupa komik dan juga pembacanya. Mengkonsumsi komik ibaratnya menikmati cemilan sembari bersantai di sofa. Bukanlah kebiasaan umum bila ditemui orang membaca komik dengan serius seperti membaca buku terori tekstual. Serumit apapun sebuah komik diolah, orang-orang selalu ingin menikmatinya dengan tanpa beban mental tertentu. Karena itu literer dalam komik diupayakan jauh dari kesan ‘menggurui’, namun tidak berarti komik bisa dipandang sebelah mata dalam membentuk mentalitas pembacanya. Justru sebagai salah satu bacaan yang termasuk pertama-tama dilahap oleh anak-anak usia sekolah, komik mempunyai peran dan pengaruh yang seharusnya diperhatikan, supaya tidak timbul sikap prejudis yang tidak-tidak melimpahkan kesalahan pada media baca komik.Komik merupakan cemilan yang harusnya dijaga baik-baik oleh para perupanya dari berbagai segi. Dari segi kualitas cerita misalnya, pengarang cerita komik sebaiknya memperhatikan alur cerita dan logika pengembangan karakter tokoh-tokohnya, karena hal itu dapat mempengaruhi pola dan logika berpikir para pembaca. Dari segi kualitas gambar ilustrasinya, bila memungkinkan para perupa komik bisa berkesempatan melatih apresiasi kesenian dari pembaca. Berpadunya cerita dan gambar, teks dan ilustrasi, dalam sebuah komik yang baik, tentunya melatih dua sisi berpikir, baik kreatif maupun rasional pembaca. Dengan mengasah ketrampilan bertutur cerita dengan gambar seperti ini, para perupa komik tentunya akan mendapatkan tempatnya tersendiri dan akibatnya karya komik pun semakin dihargai oleh masyarakat umum.

Hal-hal tersebut diatas, bukanlah merupakan sebuah beban yang harus dilimpahkan kepada mereka yang baru memasuki rimba perkomikkan Indonesia, tapi cukuplah diletakkan di depan pintu kesadaran masing-masing, biarlah mereka memungutnya sendiri kelak ketika terjun sebagai profesional dalam bidang komik ini dan sudah dapat mengambil sikap yang bagaimana dalam menekuni bidang profesi yang dipilihnya ini. Untuk dapat bersaing kelak, komik-komik yang diciptakan di dalam rimba perkomikkan nasional harus mempunyai nilai-nilai (value) yang ditambahkan didalam kreasi komik-komiknya. Nilai-nilai tambah ini akan mendukung nilai jual tanpa harus terikat dengan kondisi pasar yang sudah ada, karena tujuannya bukan sekedar seberapa besar kuantitas jumlah komik lokal yang ada di pasaran, tapi seberapa dalam menciptakan kecintaan pembaca pada karya komik lokal yang dipandang sebagai produk yang berkualitas. Sebagian pendapat menyebutnya dengan istilah dalam pemasaran ‘positioning’ dan ‘branding’ komik Indonesia. Hal ini bukan pula merupakan sebuah kemutlakan karena terjadi pula tarik ulur antara urgensi kebutuhan pasar dengan nilai yang ingin ditambahkan ke dalam sebuah komik. Disitulah menariknya bila kita membaca ‘wajah’ komik Indonesia dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini, yang masih menjadi perdebatan terbuka.

Lepas dari masalah pengaruh mempengaruhi, bila kita membaca ‘wajah’ komik Indonesia kini, akan mudah kita temui berbagai cerapan langgam yang dianggap memenuhi standar kualitatif komik yang dinilai bagus. Pada terbitan Elex Media Komputindo, kita dapatkan sebagian besar komik Indonesia mengacu pada standar genre manga(jepang), pada m&c kita temui komik Indonesia berlanggam amerika, dan pada Mizan dengan berbagai divisi turunannya akan kita dapati eksplorasi beragam langgam dari yang kartun eropa hingga semi realis. Belakang hari ini tidak sedikit penerbitan yang mencoba masuk ke kancah rimba perkomikkan Indonesia dengan mengusung nilai standar komiknya masing-masing. Penerbitan ulang yang di beri sentuhan di sana-sini dari karya-karya komik klasik Indonesia pun turut menyemarakkan ‘wajah’ komik ini. Pergerakan komik-komik alternatif yang membawa pandangan baiknya tersendiri pun semakin menambahkan warna pada ‘wajah’ komik Indonesia.

Penutup.
Dari beragamnya sumber-sumber inspirasi dan standar kebagusan komik-komik kreasi perupa komik lokal, kita berharap akan munculnya keunikan-keunikan bertutur cerita lewat gambar yang khas masing-masing individu. Kekhasan masing-masing individu menggali, menemukan, mengekpresikan verbal maupun visual niscaya akan menumbuhkan citra dan cita rasa komik Indonesia yang khas, yang mampu mandiri di negeri sendiri. Bila selama ini identitas selalu diidentikkan dengan ciri ‘yang satu’, maka identitas komik Indonesia melihat latar belakangnya yang kaya, yang mungkin terjadi hanyalah identitas dengan ciri ‘yang banyak’ atau ‘yang lain-lain’. Identitas dan ciri khas komik Indonesia tak selamanya harus satu, karena Indonesia sendiri bukanlah satu tapi banyak.

Baiklah, mari lupakan semua yang sudah diceritakan di atas, buang jauh-jauh semua yang ada dipikiran masing-masing dan mulailah mengambil pena dan kertas polos. Mulailah membuat komik pertama Anda, tanpa berpikir apa-apa tentang cerita, tentang gaya gambar, tentang ciri, bahkan tentang apa itu komik. Lupakan juga apa yang baru Anda baca ini. Biarkan yang ada hanya pena, diri Anda, dan kertas polos. Kita adalah ‘komik’ itu sendiri, kita adalah kisah ‘komik’ itu, kita jugalah gambaran ‘komik’ itu. Dan biarkan diri kita menghilang dalam ‘komik’, sampai yang tersisa hanyalah ‘komik’, tak ada sesiapa pun, tak juga Anda. Selamat Ngomik!*** [V]

DAFTAR PUSTAKA
1. Ajidarma, Seno Gumira, Palestine atawa Jurnalisme Komik, AIKON, 2002.
2. Arthur Asa Berger, Signs in Contemporary Culture: An Introduction to Semiotics, penj. M. Dwi Marianto, Penerbit Tiara Wacana, Yogya, 1984
3. Atmowiloto, arswendo: Komik dan Kebudayaan Nasional, Jurnal Analisis Kebudayaan, 1982.
4. Boneff, Marcel, Komik Indonesia, penj. Rahayu S. Hidayat, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 1998.
5. Budiman, Agung Arif, Majalah Infotekno, Edisi 10 thn. 2, Jakarta, 2002.
6. Eisner, Will, Comics and Sequential Art, Poorhouse Press, 2000.
7. Eisner, Will, Graphic Stroytelling, Poorhouse Press, 2000.
8. Franz, Kurt, dan Bernhard Meier, Membina minat baca, PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 1994.
9. H. McGynn, John, Indonesian Heritage: Visual Art, Archipelago Press, Singapore, 1999.
10. Hart, Christopher, Drawing Cutting Edge Comics, Watson-Guptil Publications, 2001.
11. Horn, Maurice(ed.), The World Encyclopedia of Comics, Chelsea House Publisher, Philadelphia,U.S, 1998.
12. Hugh Honour & Ian Fleming, A World History of Art, Laurence King Publishing, 1999.
13. McCloud, Scott, Understanding Comics: The Invisible Art, HarperPerrenial, 1994.
14. O’Neil, Dennis, The DC Comics Guide to Writing Comics, Watson-Guptil Publications, 2001.
15. Sabin, Roger, Comics, Comix and Graphic Novels: A History of Comic Art, Phaidon Press Limited, 1996.
16. Sidharta, Myra, Jakarta Through The Eyes of ‘Ko Put On’.
17. Smith, Andy, Drawing Dynamic Comics, Watson-Guptil Publications, 2000.
18. Taryadi, alfons(ed.), Buku dalam Indonesia Baru, Yayasan Obor Indonesia dan The Japan Foundation, Jakarta, 1999.
19. The Society for the Study of Manga Techniqiues, How to Draw Manga: Volume 3, 2001.
20. Varnedoe, Kirk. “Comics,” High and Low: Popular Culture and Modern Art, Thames & Hudson, 1996.

Tuesday, July 13, 2004

 
Visit The3dStudio.com


.
Your Ad Here


www.veegraph.com - online media | comic | animation | film production | post prduction