Combikid - 3D Animation Commercial
Bayangkan lah, sebuah dunia pararel berisi kehidupan yang mirip dengan dunia yang kita tinggali. Ada bukit hijau membentang, burung-burung berterbangan, gedung-gedung yang lucu berbaris membentuk sebuah kota metropolitan. Tak ketinggalan pula kendaraan berlalu-lalang, sepeda berbaris, pohon-pohon sepanjang jalan. Ternyata, dunia pararel itu ada dalam sebuah kotak yang besarnya hanya segenggaman tangan. Dan mahluk-mahluk penghuni dunia itu adalah... sekelompok permen. Permen-permen tersebut terlihat sangat bersemangat berlari diantara gedung-gedung, menuju kesebuah bukit yang hijau agar bisa terpilih oleh sebuah tangan yang datang dari luar kotak.
Begitulah gambaran yang ada dalam TVC Combikid, produk permen buatan Combiphar. Sebagian besar TVC ini adalah animasi 3D yang dikerjakan oleh Geppetto Animation. Syuting hanya dilakukan untuk penggambilan adegan ibu dan anak yang sedang memegang produk Combikid tersebut.
Pembuatan animasi tersebut dikerjakan oleh empat orang animator, yang bertugas untuk modeling, texturing, animating dan rendering. Seluruh proses animasi menggunakan program Cinema 4D, kecuali untuk modeling sepeda dan mobil, dibuat di 3DS Max yang kemudian di-export ke format .obj untuk kemudian diberi texture di Cinema 4D.
Program Cinema 4D produksi Maxon mungkin bukan aplikasi yang banyak digunakan di studio-studio animasi di Indonesia. Begitu pula halnya di Geppetto Animation, hanya dua orang yang terbiasa menggunakan program buatan Jerman tersebut. Karena jadwal tayang yang mendesak, maka satu orang animator yang biasa menggunakan program Autodesk Maya diperbantukan untuk proses animating-nya. Ia dituntut untuk bisa beradaptasi dengan cepat karena tak pernah menggunakan Cinema 4D sebelumnya.
Untuk rendering, digunakan Vray for C4D versi 1.082. Vray sebelumnya dikenal sebagai mesin render untuk aplikasi 3DS Max, dan baru-baru ini saja mengeluarkan versi untuk Cinema 4D-nya. Maka tak heran bila masih ada beberapa kekurangannya, dan diharapkan dalam versi berikutnya bisa lebih baik hingga tak kalah dengan versi yang untuk 3DS Max-nya.
Proses rendering dibagi ke dalam 3 tahapan, yaitu pertama untuk proses rendering RGBA (Red Green Blue Alpha) image, kedua untuk rendering Ambience Occlusion, dan ketiga untuk rendering shadow. Untuk rendering Ambience Occlusion, pada awalnya menggunakan Vray juga, namun karena waktu rendering dirasa lama, maka dicoba untuk menggunakan Final Render Stage 2 keluaran Cebas. Dan dirasakan proses rendering memang menjadi lebih cepat sehingga bisa mempercepat proses rendering secara keseluruhan yang hanya diberi waktu 6 hari.
Kendala yang terasa dalam proses pembuatan animasi Combikid ini adalah adanya flicker pada beberapa scene, terutama scene pembuka dengan wide angle sehingga bagian gedung dengan texture berupa tiling terlhat flicker. Juga pada obyek pohon, terlihat fliker karena proses converting dari material Cinema 4D ke material Vray harus dilakukan beberapa penyesuaian. Setelah dilakukan proses trial and error pada material dan rendering, flicker tersebut akhirnya bisa dikurangi dan bahkan dihilangkan sama sekali. Proses Online editing dilakukan di Eltra.*** (FS)
Watch the video: TVC: Combikid Klien: Combiphar Production House: 25 Frames Director: Sim F Animation House: Geppetto Animation Animator: Didi Komara, Rio, Fitra Sunandar |